Ask me anything

Facebook  Twitter  wordpress  

bisa bikin orang galau itu berkah, bisa ngilangin galau orang lain itu anugerah..

Ucapan Mahasiswa Itu Membuatku Terbelalak

Bukan ungkapan langka jika ada orang berkata; jadi dosen itu enak, tinggal bagikancopy-an bahan ajar, suruh mahasiswa diskusikan. Beres deh. Dosen serupa itu lebih tepat disebut distributor bahan ajar. Ia bukanlah dosen apalagi pendidik jika dikaitkan akan arti harfiah profesi seorang dosen.

Karena apapun aktifitas perkuliahan, dosen wajib mendampingi mahasiswanya, ia sebagai tutor, fasilitator dan learning guide.

* * *

Hari ini -di ruangan kuliah- saya ajukan pertanyaan ringan nan santai kepada mahasiswa saya: “Bahan ajar apa yang hendak saya sampaikan pada pertemuan kita kali ini?”. Tak seorangpun menjawab dengan benar, malah ada yang tidak tahu. Padahal soft copy/hard copy telah saya bagikan sejak  TM (Tatap Muka) pertama.

Selanjutnya saya bertanya lagi: “Kemampuan apa yang Saudara-saudari peroleh setelah mengikuti TM ini?”. Sayapun berkata kepada mereka, Saudara-saudari tak perlu jawab sebab pertanyaan awal saya juga telah membingungkan Saudara-saudari. Mari kita mulai kuliah, ajakku.

* * *

Saya tidak kaget dengan fenomena seperti ini. Sayapun tak menyalahkan mereka sebab mungkin saja GBRP -Garis Besar Rancangan Pembelajaran- itu tak dianggap penting. Bisa saja yang disebut penting oleh mereka adalah kehadiran, ikut kuliah, UTS/UAS dan selanjutnya dapat nilai bagus. Ini kerap terjadi tiap semester di kampus saya, entahlah di kampus lain.

Hari ini saya dikritik seorang mahasiswa tentang materi kuliah yang saya berikan. Ia acungkan tangan dan menegaskan bahwa ia tak setuju dengan teori kesakitan dan kesehatan dihubungkan dengan genetika. Sanggahan ini membuat teman-teman di sampingnya grogi dan pucat. Saya terdiam, menanti argumentasi sang mahasiswa. “Jika benar genetika berpengaruh terhadap sebuah keluarga, maka BJ.Habibie tak perlu menyekolahkan Akbar Habibie. Tanpa sekolahpun Akbar Habibie akan pintar seperti ayahnya. Toh ini genetika. Tapi kenapa Akbar masih disekolahkan?”. “Bahkan Pak”, lanjutnya lagi. “Almarhumah menteri kesehatan kita, penyakitnya tidak diwarisi dari ayah ibunya”, timpalnya lagi.

* * *

Saya tak menyoroti argementasi mahasiswa ini, yang saya salut darinya sebab ia mau, mampu dan berani mengungkapkan isi pikirannya di hadapan saya dan rekan-rekan mahasiswanya. Mahasiswa tersebut seingatku sudah pernah ikut matakuliah saya, setahun silam. Dia rajin kuliah, ikut UTS dan UAS. Saya penasaran, ada apa dengannya. Usai kuliah, saya ajak ke ruanganku. Saya siapkan kursi untuknya, saya memang butuh mahasiswa ini. Butuh penjelasan darinya. Oh ternyata, ia tidak lulus matakuliah saya tahun lalu.

Iapun duduk dengan sopannya. Saya ambil arsip perkuliahan dan daftar nilai di filing cabinet. Saya buka-buka, ternyata ia memang TIDAK LULUS. Sayapun menutup arsip itu, bertanya kepadanya: “Ada yang aneh menurut saya. Anehnya, kok Anda tidak lulus matakuliah saya tahun lalu?”. Ia menghela nafas, memperbaiki posisi duduknya. Saya paham, ada sesuatu yang ia hendak sampaikan secara serius.

Ini jawaban mahasiswaku: “Saya pantas tidak lulus Pak. Sebab, soal-soal Bapak tahun lalu tidak sejalan dengan pikiran saya. Teman-teman saya lulus karena antara soal dengan jawaban relevan. Relevan dengan text book. Sayapun lulus jika saya mau Pak”.

Saya simak ucapan-ucapan mahasiswaku ini. Saya persilakan untuk melanjutkannya

“Tapi saya minta maaf Pak, saya tidak mahir menjawab pertanyaan yang text book. Saya menyukai pertanyaan yang terbuka dan tidak mengekang. Penulis buku dalamtext book itu sesuai pikiran penulis. Pemikirannya berbeda dengan saya Pak. Sayapun menjawab soal-soal Bapak tahun lalu didasarkan pada pikiran saya. Pikiran saya dinilai salah sehingga saya tidak lulus Pak. Sedang pemikiran penulis buku dalam text book itu dinilai benar. Buat saya, tak ada absolut di text book. Perkara lulus atau tidak lulus, tidak ada kaitannya dengan soal kebodohan atau kepintaran. Tapi soal pikiran yang berbeda. Saya menjawab soal Bapak dengan pikiran saya. Saya puas melakukannya walau saya tidak lulus. Saya puas Pak”.

Ucapan panjang mahasiswa saya ini membuatku tertunduk dan tafakkur. Baru kali ini saya mendapatkan kritikan terbuka. Tiada alasan saya menolak kritikan mahasiswaku ini, saya salut dengannya. Bergegas saya ambil arsip daftar nilai. Berkatalah saya kepadanya: “Maafkan saya, saya yang keliru. Terbuka mata saya sekarang setelah Anda menjelaskan pendapat Anda. Anda tak perlu ikut kuliah saya lagi. Saya memiliki hak prerogatif untuk mengubah nilai Anda. Dan saya sendiri yang akan mengurusnya di rektorat”.

* * *.

“Maaf Pak. Saya tetap akan ikut kuliah. Saya bukan penuntut nilai Pak. Saya penuntut ilmu”. Ucapan ini mengakhiri percakapan saya dengannya. Sayapun pulang kampus, ucapan mahasiswaku ini terngiang-ngiang sepanjang perjalananku hari ini. Saya hanya tertegun, seraya membenarkan perkataannya. Yah, ucapan mahasiswa itu membuatku terbelalak dan sadarkan diriku dari alam pengajaran so text book, so closed^^^

(Source: edukasi.kompasiana.com)

2 years ago
1 note
free counters